700 Juta Data Pengguna LinkedIn Di Jual, Benarkah?


Pada 22 Juni 2021, terdapat berita yang memuat bahwa telah terjadi kebocoran data pengguna LinkedIn dan data tersebut dijual pada salah satu forum hacker. Menurut berita yang dimuat oleh Restore Privacy, menjelaskan bahwa forum tersebut menjual lebih dari 700 juta data pengguna LinkedIn dengan 1 juta data sebagai sample data. Berdasarkan berita tersebut pula, dijelaskan bahwa data yang termuat memiliki informasi berupa:


  • Alamat email

  • Nama lengkap

  • Nomor telepon

  • Alamat Pengguna

  • Lokasi

  • Nama pengguna dan URL profil LinkedIn

  • Pengalaman/latar belakang pribadi dan profesional

  • Jenis kelamin

  • Akun media sosial dan nama pengguna lainnya


Penjual memberikan klaim bahwa data yang di jual mereka memiliki informasi lengkap dengan data pribadi dari 700 juta pengguna LinkedIn. Melihat bahwa saat ini, LinkedIn memiliki pengguna sebesar 725 juta orang pengguna di seluruh dunia. Apabila klaim penjual tersebut benar, ini membuat kurang lebih 92% data pengguna LinkedIn terlah bocor dan tersebar melalui forum tersebut. Sehingga ini menjadi salah satu kebocoran data terbesar yang pernah terjadi di dunia.


Adanya kasus ini mempertegas bahwa keamanan Cyber merupakan focus utama yang perlu ditingkatkan oleh sebuah perusahaan. Selain itu, pengguna juga perlu menjaga keamanan data pribadi mereka yang ada di dalam sebuah aplikasi ataupun situs perusahaan. Hal ini menjadi pelajaran yang sangat penting untuk terus melakukan monitoring dan investigasi terhadap seluruh database perusahaan.


Melakukan monitoring dan investigasi terhadap seluruh database perusahaan bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Dikarenakan kita menjaga seluruh database yang dimiliki perusahaan, sekaligus informasi penting dan rahasia perusahaan didalamnya. Berbicara mengenai database perusahaan, tentu saja kita berbicara jutaan bahwa miliaran data yang telah terinput secara sistematis. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan bagi divisi yang memiliki tugas untuk melakukan penjagaan, pengawasan dan penelusuran terhadap seluruh indikasi kebocoran data perusahaan. Divisi ini juga perlu mengetahui celah yang menjadi kerentanan situs ataupun aplikasi perusahaan, sehingga dapat meminimalisir segala bentuk kerugian yang akan terjadi di masa depan.


Melihat kasus-kasus kebocoran data sebelumnya, biasanya data yang telah bocor akan di sebar ataupun di jual melalui Deep Web dan Dark Web. Sehingga penting sekali untuk terus melakukan pengintaian secara terorganisir di dalam Deep Web dan Dark Web. Melakukan penelusuran dan pengawasan melalui Deep Web dan Dark Web memiliki tantangan tersendiri, dikarenakan ada banyak sekali lapisan yang perlu untuk di tembus. Tetapi sebagai pemberi layanan dan solusi keamanan siber di Indonesia, Prima Cyber Solusi dapat memberikan solusi tersebut kepada perusahaan yang ingin melakukan monitoring dan investigasi di dalam Deep Web dan Dark Web, yaitu DarkTracer.


DarkTracer merupakan layanan dan solusi yang dapat Prima Cyber Solusi berikan kepada perusahaan Anda, untuk dapat meminimalisir segala indikasi kebocoran data dan penyebaran informasi rahasia perusahaan di dalam Deep Web dan Dark Web. Dengan kemudahan yang diberikan seperti pencarian melalui Keywords dan memiliki 40+ indicator lebih yang memudahkan dalam kegiatan investigasi, sekaligus mendapatkan update secara real time yang telah terkoneksi dengan Deep Web dan Dark Web. Kemudahan dalam melakukan profiling terhadap seluruh keywords yang telah ditentukan, membuat DarkTracer menjadi salah satu layanan dan solusi terbaik yang dapat Prima Cyber Solusi berikan kepada perusahaan Anda.


Anda bisa mencoba DarkTracer secara gratis dalam masa FreeTrial, untuk merasakan kegunaan dan manfaat dari DarkTracer. Hubungi sales@primacs.co.id untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai DarkTracer, dan kami juga dapat memberikan layanan secara 24 jam non-stop untuk kebutuhan Cyber Security lainnya.


Source:

3 views0 comments