Amerika Memperingati Bulan Kesadaran Keamanan Siber, Indonesia Apa Kabar?



Keamanan siber sudah berkembang menjadi masalah yang lebih besar dalam beberapa tahun belakangan, terutama pada masa pandemi dan endemi ini. Di Indonesia saja, hingga kuartal kedua tahun 2020, pengguna internet telah mencapai 196,7 juta jiwa atau setara dengan 73,7% penduduk Indonesia (Pusat Kajian Anggaran DPR). Dan menurut Datareportal, pada bulan Juli 2022 ada sebanyak 5,34 miliar orang (66.9% populasi dunia) menggunakan perangkat digital di seluruh dunia. Dan ada sebanyak 5,03 miliar pengguna internet dengan rata-rata waktu online 7 jam per hari di dunia.


Gambar 1 : Ringkasan Penggunaan Internet menurut Datareportal


Di Amerika Serikat, sejak tahun 2004 bulan Oktober sudah diperingati sebagai bulan keamanan siber. Dimana hal ini sebagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah yang berkolaborasi dengan industri untuk meningkatkan kesadaran keamanan siber nasional dan untuk memastikan rakyatnya memiliki seluruh sumber daya yang mereka butuhkan agar terlindungi secara online.


Kampanye ini tampaknya dapat diadaptasi oleh Indonesia untuk meningkatkan kesadaran rakyat Indonesia akan keamanan siber, mengingat semakin hari semakin banyak upaya serangan siber yang terjadi di Indonesia. Menurut laporan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), ada lebih dari 1,6 miliar serangan siber yang terjadi diseluruh wilayah di Indonesia sepanjang tahun 2021, dan ada 700 juta lebih serangan yang terjadi pada semester pertama tahun 2022, dengan dua cara yang paling sering digunakan adalah malware atau ransomware dan phishing.


Hal tersebut tidak terlepas dari pandemi Covid-19, dimana pemerintah Indonesia menyarankan kepada hampir seluruh sektor untuk beralih ke digital, mengingat adanya himbauan untuk bekerja dan belajar dari rumah. Namun, ternyata Indonesia masih belum siap untuk beralih ke dunia digital dan sangat rentan terhadap serangan siber, hal ini dapat terlihat dari beberapa kasus yang terjadi akhi-akhir ini.


Masyarakat Indonesia masih banyak menganggap sepele tentang keamanan digital. Padahal, dengan berkembangnya teknologi digital, itu membuat setiap orang memiliki jejak digital yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi tersebut. Sebut saja media sosial, salah satu sarana terbesar yang menyimpan jejak digital kita, dari hal yang kurang penting sampai kepada data pribadi kita. Kita seringkali tidak sadar dalam mengunggah sesuatu hal ke akun media sosial kita, seperti alamat, nomor telepon, nomor identitas dan lainnya, yang ternyata hal tersebut bisa dipergunakan oleh Threat Actor untuk menipu atau bahkan mengancam kita. Contohnya adalah trend ‘KTP Challenge’ yang sempat ramai pada akhir 2021 di Instagram dan tiktok. Banyak warga net yang tanpa berpikir panjang menggunggah foto KTP-nya ke media sosialnya hanya agar tidak ketinggalan trend.


Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika kita secara pribadi lebih sadar dan mulai menjaga data-data pribadi kita. Hal tersebut bisa dimulai dari hal yang paling sederhana seperti tidak sembarang memberi informasi kepada orang yang tidak kita percayai, lebih teliti dan berhati-hati dalam mengunggah sesuatu pada sosial media kita, serta lebih berhati-hati dalam menghubungkan USB atau perangkat penyimpanan luar lainnya.


Sources :

  1. https://berkas.dpr.go.id/puskajianggaran/bib/public-file/bib-public-112.pdf

  2. https://datareportal.com/reports/digital-2022-july-global-statshot

  3. https://cyberthreat.id/read/3156/Di-AS-Oktober-Adalah-Bulan-Kesadaran-Cybersecurity

7 views0 comments