Cegah Pencurian Data Menggunakan Endpoint Security



Belakangan santer kita dengar adanya kebocoran data yang terjadi di Indonesia. Dari kasus-kasus tersebut, nampaknya Indonesia bisa jadi adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap kejahatan digital. Masyarakat di Indonesia masih acuh tak acuh mengenai perlindungan data dan keamanan siber. Padahal, dampak buruk dari kebocoran data ini dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan publik, menurunnya reputasi bahkan tuntutan hukum bagi perusahaan atau organisasi yang menjadi korban pencurian data tersebut. Di sisi lain, untuk orang yang datanya dibocorkan akan mengalami kerugian berupa digunakannya data tersebut sebagai bahan untuk penipuan.


Taukah kamu, hacker juga punya beberapa teknik untuk mencuri data loh! Ada beberapa cara yang umum digunakan hacker untuk mencuri data kita, yaitu melalui koneksi yang tidak aman (seperti Wi-Fi gratis), Phishing, dan menggunakan malware. Teknik menggunakan malware sendiri merupakan cara yang sangat umum digunakan Hacker untuk merusak dan mencuri data.


Sederhananya, malware adalah program yang dibuat dengan tujuan merubah, menghapus, atau merusak objek dengan cara menyusup ke sistem atau endpoint user. Umumnya malware masuk melalui email, download internet atau program yang telah terinfeksi. Setelah menyusup, malware akan menginfeksi endpoint dan memungkinkan terjadinya pencurian data dan informasi perusahaan. Ada beberapa jenis malware yang bahkan dapat menyebar ke perangkat-perangkat lain hanya dengan koneksi jaringan.


Salah satu Malware yang paling berbahaya dan harus diwaspadai oleh perusahaan adalah ransomware. Cara kerja ransomware adalah dengan dengan mengenkripsi data sehingga tidak dapat dibaca oleh perangkat, sehingga korban tidak bisa mengakses data tersebut. Setelah itu, threat actor akan meminta sejumlah uang tebusan untuk melakukan dekripsi kepada data tersebut. Hal ini sangat berbahaya bagi perusahaan karena selain meminta sejumlah uang tebusan, pada saat data tersebut dienkripsi, itu artinya data tersebut sudah berada ditangan threat actor.


Peretas pasti akan selalu memiliki cara untuk mengakses sistem dan mencuri data agar mendapatkan informasi sensitif dari korbannya, oleh sebab itu sangatlah penting bagi organisasi atau perusahaan untuk meningkatkan keamanan data-data yang dimilikinya. Salah satu cara perusahaan untuk menjaga keamanan data adalah dengan menggunakan Endpoint Security atau keamanan endpoint. Apa itu Endpoint Security? Dan bagaimana cara kerjanya? PRIMACS akan mengulasnya pada postingan kali ini.


Untuk mengetahui apa itu endpoint security, kita perlu lebih dulu mengetahui apa sih endpoint itu? Jadi seperti namanya, endpoint merupakan titik akhir atau perangkat pengguna akhir dari jalur komunikasi dalam satu jaringan seperti desktop, laptop, perangkat mobile, bahkan server. Proses endpoint biasanya mencangkup proses, data dan informasi yang disimpan dan dikirimkan melalui perangkat. Terus, apa dong endpoint security itu? Secara singkat, endpoint security adalah segala bentuk tindakan perlindungan kepada perangkat pengguna akhir, dalam hal ini bisa berupa laptop, desktop, dan perangkat mobile dari serangan hacker.


Setiap endpoint yang digunakan oleh user, memiliki resiko yang dapat digunakan sebagai "pintu masuk" oleh threat actor. Resiko yang kerap kali menjadi pintu masuk tersebut misalnya seperti menyambungkan sembarang USB, mendownload malicious file, mengklik tautan yang tidak terpercaya, dsb. Oleh sebab itu endpoint security dirancang untuk mengatasi resiko-resiko yang mungkin ditimbulkan oleh perangkat tersebut.


Diawal periode penggunaan perangkat digital (sekitar tahun 1980an), endpoint security yang pertama kali kita kenal adalah anti-virus tradisional. Dimana anti-virus ini bertugas untuk mengarantina atau menghapus file-file yang diduga merupakan malware berdasarkan pattern yang terdapat pada database dari anti-virus tersebut. Namun ternyata seiring perkembangan teknologi, cara tersebut dinilai sudah kuno karena banyak malware baru yang bermunculan dengan pola yang tidak terdeteksi oleh database anti-virus. Oleh sebab itu anti-virus pun harus berkembang. Pemicu utama perkembangan itu adalah munculnya ransomware ‘Wannacry’ yang mengunci akses kepada program atau file korbannya sehingga membuat korban tidak bisa mengakses file tersebut.


Endpoint security ini berevolusi menjadi sebuah perlindungan yang komprehensif terhadap malware dan ancaman lainnya yang tidak diketahui sebelumnya. Endpoint security dilengkapi dengan machine learning dan Artificial Intelligence (AI) untuk dapat mengenali ancaman malware berdasarkan perilaku (behaviour)nya.


Endpoint security memungkinkan kita untuk mengontrol perangkat-perangkat yang terhubung ke jaringan perusahaan secara menyeluruh, sehingga mengurangi resiko terjadi kebocoran data baik berupa dokumentasi maupun informasi sensitif perusahaan. Manfaat lain dari penggunaan endpoint security adalah untuk menahan serangan siber canggih seperti ransomware dan trojan, keamanan yang dipantau secara langsung dan memberi data secara realtime, serta perlindungan yang selalu mengikuti perkembangan ancaman siber.


Jadi untuk kesimpulannya, supaya perangkat kamu terhindar dari malware, ransomware, dan berbagai ancaman siber lain, kamu bisa mulai untuk menggunakan endpoint security dan dapatkan berbagai manfaatnya. Ingat, keamanan data adalah tanggung jawab kita semua ya.



  1. https://voi.id/teknologi/43646/teknik-pencurian-data-yang-digunakan-i-hacker-i-dan-cara-melindungi-diri-dari-peretasan

  2. https://www.pcman.co.id/security-it/endpoint-security/

  3. https://phintraco.com/sudahkah-anda-menggunakan-solusi-keamanan-endpoint-yang-memadai/[RD2]

  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Digital

  5. https://www.dewaweb.com/blog/apa-itu-endpoint/

13 views0 comments